Tampilkan postingan dengan label Keluarga Sebagai Pranata Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga Sebagai Pranata Sosial. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2012

Fungsi Sosialisasi Keluarga

A.    Definisi
Sosialisasi dimulai pada saat kelahiran dan usai ketika meninggal. Sosialisasi mencakup semua proses dalam sebuah komunitas tertentu atau kelompok dimana manusia meningkatkan pengalaman hidup mereka, memperoleh karakteristik motif sosial (Honingman, 1967).
Sosialiasi diarahkan pada pengajaran anak-anak menganai bagaimana caranya berperilaku dan mengasumsikan peran di masyarakat. Anak diajari bahasa, peran atau diharapkan untuk mengasumsikan pada berbagai langkah hidup, norma sosial dan kultural dan harapan dari apa benar dan keliru, dan struktur teori yang relevan.

B.     Aspek Sosialisasi Keluarga
Budaya Internal atau nilai-nilai dan kepribadian  meliputi konsep kesehatan, sikap, dan kepribadian. Ketiga aspek tersebut umumnya ditangani oleh Ibu.

C.    Masalah yang Mungkin Ditemukan
Dari sebagian besar penelitian dan literature mengenai pola perkembangan anak dari orang tua lengkap, single-parent, dan keluarga orang tua tiri didapatkan hasil : single-parent dan orang tua tiri merupakan dua keluarga dengan pola sosialisasi yang unik, dan tentunya akan berdampak pada anak. Allen (1997) mengemukakan bahwa orang tua lesbian dan Gay memiliki konsep bahwa “keluarga terdiri dari berbagai macam seperti anak kandung, anak adopsi, dan anak yang dipilih dari keluarga terdekat.
1.    Keluarga Single-Parent
Single-parent umumnya terbentuk karena perceraian atau meninggalnya salah satu dari orang tua tersebut. Membesarkan anak bagi single-parents merupakan hal yang sulit, khususnya jika tidak ada orang dewasa lain yang mengarahkan orang tua. Single-parents membutuhkan Perjuangan untuk
melengkapi kebutuhan finansial dan dukungan emosional untuk anak-anak mereka. Kemiskinan dan tidak adanya lapangan pekerjaan tetap yang biasanya dihadapi ibu semakin memberatkan untuk membesarkan anak.
Masalah yang dihadapi anak dengan orang tua tunggal biasanya mengalami ketidaksuksesan dalam sekolah, rendahnya penghargaan, dan penurunan harga diri bila dibandingkan dengan anak yang dibesarkan dengan orang tua lengkap.
2.    Keluarga Step-parent
Dalam keluarga dengan orang tua tiri, aturan yang ditetapkan ayah tiri membingungkan dan menghasilkan ketidakseimbangan keluarga yang berdampak pada kesulitan dalam membesarkan anak. Setiap orang tua membentuk latar belakang keluarga ketika menjelaskan kepada anak menganai kepercayaan, perilaku, dan disiplin. Ketika orang dewasa memasuki keluraga baru, ayah tiri akan menjadi suami namun tidak sepenuhnya menjadi orang tua dan menyetujui tentang aturan yang diberlakukan. Lebih lanjut, anak yang tumbuh dengan kepribadian mereka dan memiliki harapan mengenai apa yang diterima atau tidak diterima bagi mereka sendiri dan pajanan orang tua kandung mereka.
3.    Keluarga Gay/ Lesbian (LGBT)
Orang dewasa lesbian, gay, biseksual, dan transgender merupakan anggota dari banyak keluarga, sering mengasuh anak dengan berbagai situasi. Semisal, Saving Williams dan Esterberg (2000) mengklasifikasikan keluarga gay lesbian:
a)    Keluarga dengan orang tua heteroseksual namun anaknya lesbian, gay, atau biseksual.
b)    Anak dari orang tua lesbian atau gay.
c)    Orang dewasa lesbian dan gay yang mengasuh anak bersama.
Anak dengan orangtua lesbian dan gay membangun psikologi, intelektual, kepribadian, dan emosi dalam arahan yang positif dan orientasi seksual dari orang tua tidak berakibat atau bukan merupakan prediksi dari pembangunan karakter anak.

D.  Manfaat Data bagi Perawat
1.   Data yang dikaji sehubungan dengan fungsi sosialisasi keluarga
  • Jenis pemeliharaan yang dilakukan keluarga kepada anak (kontrol kepribadian, disiplin, penghargaan, dan hukuman; ketergantungan dan otonomi; pemberian dan penerimaan cinta; latihan pengembangan kepribadian)
  • Bentuk adaptasi keluarga ketika membesarkan anak dalam berbagai situasi
  • Siapa yang bertanggung jawab terhadap perawatan anak mengenai peran dan fungsi sosialisasi, dan manajemen yang diambil.
  • Bagaimana mempengaruhi atau mengajak dalam keluarga
  • Budaya yang berpengaruh dalam keluarga dalam hubungannya dengan pola pengasuhan anak.
  • Apakah kelas sosial dan pengaruhnya pada  perkembangan anak
  • Apakah keluarga memiliki risiko tinggi dalam masalah membesarkan anak dan faktor resiko dalam keluarga
  • Apakah lingkungan rumah nyaman bagi anak untuk bermain.
2.   Manfaat data bagi perawat keluarga
  • Mengidentifikasi masalah potensial atau aktual
  • Mengobservasi kekuatan keluarga dan masalah yang dihadapi sehubungan fungsi sosialisasi keluarga biasanya terjadi pada perawat keluarga yang bekerja di sekolah, bagian anak, kesehatan komunitas, keperawatan keluarga, dan kesehatan mental. Kekuatan keluarga mungkin tertutup oleh diagnosa keluarga potensial.
  • Merencanakan intervensi yang sesuai dengan masalah keperawatan
  • Intervensi terkait pola fungsi sosialisasi keluarga yng sesuai untuk promosi kesaehatan, dan upaya pencegahan, tipe diagnosa pengembalian kesehatan. Contoh seperti intervensi sesuai yang melingkupi pengajaran, dan pengarahan serta pemberian intervensi lebih awal dan untuk program orang tua.


DAFTAR PUSTAKA
Friedman, Marilyn, Vicky R. Bowden, Elaine G. Jones. 2003. Family Nursing: Research, Theory, & Practice, fifth edition. New Jersey: Pearson Education

Keluarga Sebagai Pranata Sosial

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain. Di dalam perannya masing-masing menciptakan dan mempertahankan suatu kebudayaan, Ayah sebagai suami dari istri, Bapak dari anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosial serta sebagai anggota dari masyarakat dan lingkungan. Ibu sebagai istri dari suami dan ibu bagi anak-anaknya, mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya. Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Sesuai dengan fungsi serta tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga, dapat disimpulkan bahwa peranan ayah dan ibu dalam keluarga sebagai berikut :
Peranan ayah adalah
•    Sumber kekuasaan di dalam keluarga
•    Penghubung intern keluarga dengan masyarakat atau dunia luar
•    Pemberi perasaan aman bagi seluruh anggota keluarga
•    Pelindung terhadap ancaman dari luar
•    Hakim atau yang mengadili jika terjadi perselisihan
•    Pendidik dalam segi-segi rasional
Peranan Ibu adalah
•    Sumber dan pemberi kasih sayang
•    Pengasuh dan pemelihara
•    Tempat mencurahkan isi hati
•    Pengatur kehidupan dalam rumah tangga
•    Pembimbing hubungan pribadi
•    Pendidik dalam segi-segi emosional

Dari hari ke hari manusia melaksanakan banyak tindakan interaksi antar individu dalam rangka kehidupan masyarakat. Interaksi itu penting karena masyarakat merupakan suatu kesatuan dari Individu-individu yang satu dengan yang lain berada dalam hubungan interaksi yang berpola, sehingga menimbulkan reaksi/respons dari individu-individu lain. Proses interaksi antar individu dibedakan menjadi dua hal yaitu : Kontak dan Komunikasi. Kontak antar individu tidak hanya kotak berjarak dekat (berhadapan muka), tetapi alat kebudayaan masa kini seperti tulisan, buku, surat kabar, telpon, radio, televisi yang memungkinkan kontak jarak jauh. Komunikasi timbul setelah kontak terjadi. Dalam proses itu tindakan dari pihak pertama mengeluarkan makna yang ditangkap oleh pihak kedua. Penangkapan makna ini menjadi pangkal untuk reaksi pihak kedua. Kontak belum berarti adanya komunikasi seperti : seorang pembaca tidak berhasil memahami tulisan seorang penulis, sehingga kontak ada, tetapi komunikasi antara pembaca dan penulis tidak ada. Atau sering terjadi makna dari pihak pertama berbeda dengan makna yang ditangkap oleh pihak kedua, dengan demikian tidak terjadi suatu komunikasi dan respons seperti yang diharapkan pihak pertama.

Dari tindakan yang berpola tadi dibedakan antara pola tidak resmi dan pola resmi. Sistem-sistem yang menjadi wahana dalam berinteraksi menurut pola-pola resmi, dalam ilmu sosiologi dan antropologi disebut pranata atau institution. Jadi pranata adalah sistem norma atau aturan-aturan yang mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus.

Keluarga sebagai pranata sosial karena  keluarga memiliki tanggung jawab yang besar dalam fungsinya untuk menanamkan dasar-dasar sosialisasi ke lembaga-lembaga sekunder.
Semua ahli sosiologi mengetahui bahwa mekanisme kunci dari proses sosialisasi di dalam semua kebudayaan masyarakat adalah keluarga. Dari keluarga, hal-hal yang berhubungan dengan transformasi anak untuk menjadi anggota masyarakat dilakukan melalui hubungan perkawinan. Di dalam keluarga terjadi sistem interaksi yang intim dan berlangsung lama. Keluarga merupakan kelompok primer yang ditandai oleh loyalitas pribadi, cinta kasih dan hubungan intim penuh kasih sayang. Dalam keluaraga, anak memenuhi sifat-sifat kemanusiaannya dan berkembang dari insting-insting biogenetik yang primitif untuk belajar terhadap respon-respon sosial. Di dalam keluarga anak belajar dan melakukan interaksi sosial yang pertama serta mulai mengenal prilaku-prilaku yang dilakukan oleh orang lain. Dengan perkataan lain, pengenalan tentang budaya-budaya masyarakat dimulai dari keluarga. Disini anak juga belajar tentang keunikan pribadi seorang, dan sifat-sifat kelompok sosial disekitarnya. Hampir disemua masyarakat keluarga dikenal sebagai unit sosial dimana anak mulai memperoleh pengalaman-pengalaman hidupnya.

Keluarga keluarga merupakan arena dimana anak mulai mengenal prokreasi dan kreasi secara syah dan dibenarkan. Didalam suatu masyarakat, keluarga inti menjalankan fungsi yang sebenarnya dari masyarakat, sementara pada masyarakat lain, pola-pola kekerabatan memegang fungsi utama dalam membudayakan generasi muda. Dalam kasus lain, keluarga adalah sebagai perantara antara budaya lokal dan unit sosial, dimana nilai-nilai budaya mulai ditanamkan dari generasi tua ke generasi muda.
Keluarga juga menjalankan fungsi fungsi politik. Keluarga membantu mengembangkan kemampuan-kemampuan dan ketrampilan-ketrampilan untuk hidup berkelompok. Di dalam keluarga anak mengenal proses pengambilan keputusan, kepatuhan terhadap penguasa dan ketaatan untuk menjalankan aturan-aturan yang berlaku. Karena didalam keluarga sebagai unit terkecil, terjadi fungsi-fungsi pengambilan keputusan maka keluarga merupakan sistem politik pada tingkat mikro. Di dalam keluarga, anak pertama kali belajar mengenal pola-pola kekuasaan, bagaimana kekuasaan terbagi serta jaringan-jaringan hubungan kekuasaan berlangsung. Disini anak mulai mengenal mengapa orang tua memiliki power yang lebih tinggi dibandingkan saudara-saudaranya yang lebih tua, serta bagaimana pembagian kekuasaan antara lelaki dan perempuan. , antara yang muda dan yang tua, antara ayah dan ibu, antara anak dan orang tua. Sifat-sifat kepatuhan anak dalam keluarga akan dibawa dalam kepatuhan di sekolah dan di masyarakat. Demikian juga sifat-sifat suka memberontak, kebiasaan melawan dan tidak disiplin didalam keluarga, juga akan mempengaruhi dalam kehidupan di sekolah dan di masyarakat.
Disamping keluarga memiliki fungsi politik, keluarga juga memiliki fungsi ekonomi, yaitu fungsi-fungsi yang berhubungan dengan proses-proses memproduksi dan mengkonsumsi tentang barang-barang dan jasa. Didalam siklus hubungan intim didalam keluarga, anak-anak belajar mengenal sikap-sikap dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk memainkan peranan dalam kegiatan produksi, konsumsi, barang, dan jasa. Setiap keluarga mengadopsi pembagian tugas merupakan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh keluarga. Didalam keluarga juga ditemukan tentang nilai-nilai kerja, penghargaan tentang kerja dan hubungan antara kerja dan imbalan-imbalan yang dianggap layak.

Peranan keluarga bukan saja berupa peranan-peranan yang bersifat intern antara orang tua dan anak, serta antara yang anak satu dengan anak ang lain. Keluarga juga merupakan medium untuk menghubungkan kehidupan anak dengan kehidupan di masyarakat, dengan kelompok-kelompok sepermainan, lembaga-lembaga sosial seperti lembaga agama, sekolah dan masyarakat yang lebih luas.

Setelah anak memiliki pergaulan dan pengalaman-pengalaman yang luas didalam kehidupan masyarakatnya, sering pengaruh orang-orang dewasa disekitarnya lebih mempengaruhi dan membentuk prilakunya dibandingkan pengaruh dari keluarga. Dalam situasi semacam itu tidak jarang akan terjadi konflik didalam diri anak, pola prilaku manakah yang kemudian diadopsi untuk dijadikan pola panutan.